Search This Blog

Saturday, December 08, 2012

Deja Vu Diego Mendieta

Mari kembali ke kota Alkhobar di tahun 2009, di sebuah sudut Al Rashed Mal, ketika saya menemani teman yang sedang bekerja di cafe-nya.
Euh. Tepatnya menumpang internetan, sih. Wifi cafe-nya superkencang, dan saya haus pergaulan di sosial media. Plus teman saya itu sering ngasih segelas cokelat hangat gratis, sih.

Tiba-tiba seorang perempuan bercadar nyelonong masuk ruangan, langsung duduk. Dari perawakan dan bahasa tubuhnya seperti orang asia.

Perempuan itu melepas cadarnya. Dan tebakan saya benar.
Matanya merah sekali. Senyumnya mengembang saat tatapan kami beradu.
Setelah sapa-sapa singkat, ternyata ia TKW asal Kupang.

Saya lalu menawarkan minuman, kemudian tersibaklah sebuah curhatan; “Saya gak punya uang, mau ikut duduk saja sambil nunggu majikan belanja."

Lalu curhatan menggelinding liar ke sebuah ironi yang tak pernah usai. Seperti lagu pilu menyayat hati yang selalu diputar radio di jam-jam primetime, sampai kita muak lalu berhenti me-request, tapi menunggu lagu serupa dalam balutan nada berbeda.

"Enam bulan terakhir ini (gaji) saya gak dibayar. Makan juga kadang dikasih malem aja. Kalo sakit cuma dikasih jus jeruk. Saya akhirnya minta tiket pulang, malah dipukulin. Yah, saya cuma pengen pulang. Gaji gak dibayar gak apa-apa. Setidaknya kalo mati, saya pengen di sebelah ibu.”


Mungkin ada yang menguap baca ini, atau ada yang sekadar “Ah, udah biasa itu mah. Yah mau gimana lagi”, atau “salah sendiri jadi TKW,” atau bla bla bla..

Saya pun sempat berhenti meracau tentang TKI di twitter, karena merasa heboh sendiri, dan sebagian orang menyangka saya sedang promo buku.
Yang menyakitkan, ketika saya nge-tweet tentang TKI, ada saja yang bertanya, “Memangnya ada yang mati lagi?” Saya tanya balik, “Memangnya kalo mau peduli TKI harus nunggu dari kami ada yang dipenggal dulu ya?”

Yah, terserah. Walau kerasa nyesek, ya itu pilihan anda bila tak peduli atau sudah bosan dengan berita TKI. Tapi kini, ada sebuah berita di tanah air membuat saya deja vu. Dan saya mohon anda peduli.

"Saya tidak ada uang. Saya ingin tiket pulang. Saya tidak mau mati di sini (Indonesia). Saya ingin dekat dengan mamah," itulah yang diucapkan pemain Persis Solo Diego Mendieta, satu hari sebelum ajal menjemputnya.
(Diambil dari REPUBLIKA.CO.ID)

Saya tercengang. Malu sekali.
Saya mendadak merasa menjadi majikan Saudi (atau mana pun) yang menelantarkan TKI.

Masih dari REPUBLIKA.CO.ID:
Ironisnya, disaat sedang berjuang keras melawan penyakitnya, Mendieta tak mendapatkan perhatian dari Persis Solo. Ia pun tak mampu membeli obat lantaran empat bulan gajinya belum dibayarkan oleh klub divisi utama yang bernaung di bawah Pt Liga Indonesia ini.
...
Akibat tak memiliki dana, Mendieta harus keluar masuk rumah sakit sebanyak tiga kali. Pertama kali, ia dirawat di RS Islam Surakarta Yarsis pada awal November selama sepekan. Ia terpaksa keluar dari rumah sakit tersebut karena sudah tak mampu membayar biaya perawatan.

Belum berhenti tercengang, beberapa kalimat di berita tentang Diego Mendieta di CNN menampar saya:

There he lay, helpless. Alone. Dying.
There were no news stories. There was no #prayforMendieta hashtag, not even a line on the internet.

Iya, saya tertampar mengingat status sebagai penduduk di negeri yang sering menyumbang TT teratas di twitter, ternyata lebih mementingkan hashtag ucapan selamat ulang tahun artis-yang tanpa TT pun masih bisa makan senang bersama keluarganya.

Baiklah, mungkin saya terlalu perasa atau berlebihan atau terlalu emosional dengan 'trauma' masa lalu atau apalah itu.

Tapi apakah masih berlebihan jika saya—dan siapa pun yang waras berharap agar tragedi Diego Mendieta tidak terulang kembali?
Terus terang saya sangat waswas campur su'udzon, setelah semua kembali sibuk dengan permasalahan dan kepentingan masing-masing, akan muncul lagi kasus serupa. Lagi, dan lagi.
Atau yang terburuk adalah ketika berita kematian dipolitisasi demi kepentingan masing-masing.

Atau apakah memang sudah sepatutnya kita cuma boleh heboh setelah ada korban berikutnya—yang diliput media­?

Karena terus terang saya terpukul dan malu dan tidak mau membiasakan “Ah, udah biasa itu mah—Yah mau gimana lagi.

Sumber foto: Republik

Selamat jalan, Mendieta.
Maafkan kami.


2 comments:

  1. Karena saya nggak tahu Diego Mendieta itu siapa, maka saya nggak ngira kalau Mendieta adalah pesepakbola asing yang dipekerjakan di Indonesia dan mati dalam keadaan pengobatan yang tidak dibayar.

    Mengharapkan pemerintah Indonesia mau membayari pemain asingnya selama pemain itu sakit, sama saja seperti mimpi. Kesehatan olahragawan di sini bukan prioritas utama. Sebaiknya atlet-atlet itu menyelamatkan nyawanya sendiri-sendiri daripada mengabdi untuk Indonesia.

    ReplyDelete
  2. sumpah sedih banget rasa nya pas liat berita diego,mau marah bgaimana kesal sama pemerintah,kecewa masa gak di bayar mana harga diri kalian

    ReplyDelete

Bebas komentar apa saja, asal damai. Terima kasih banyak :*